Aku Benci Kamu Hari Ini
“Aku
benci kamu hari ini!” teriakku, “dan mungkin selamanya,” ucapku lirih
sebelum aku pergi meninggalkannya. Lelaki itu hanya diam terpaku di
tempatnya. Mungkin tak punya nyali untuk berkata-kata. Begitupun wanita
dalam pelukannya, yang sedari tadi dicumbu dengan mesra.
Sudah
lebih dari delapan tahun kami bersama, sejak masih remaja berseragam
SMA. Dia yang mempesona. Entah aku harus bangga atau waspada karena
ketampanannya. Tak jarang aku cemburu karena pesona itu begitu memikat
kaum hawa. Tapi dia tetap setia, membuatku semakin cinta.
“Aku
akan menunggumu. Kembalilah dengan cinta yang sama, utuh, buatku.
Akupun begitu, akan menjaga cinta ini hanya untukmu,” katamu sewaktu aku
akan pergi ke Negeri Kangguru untuk menuntut ilmu.
Aku
percaya kamu. Aku menepati janjiku karena aku yakin kamu pun begitu.
Aku tahu semua tentangmu, dari dulu, semenjak kita masih berseragam
putih abu-abu. Tapi ternyata aku salah. Aku belum sepenuhnya mengenalmu.
Tidak. Aku yakin aku sangat mengenalmu. Tapi kamu yang dulu, lelaki
lugu itu. Entah siapa kamu yang sekarang. Aku sama sekali tidak kenal,
bahkan untuk sedikit memahami aku tak mampu lagi.
Lelaki
yang aku kenal itu begitu mengagungkan cinta. Tak kan dibiarkan
seseorang terluka karena cinta. Dia tak akan mampu bermain-main dengan
cinta, apalagi membagi cinta. Tidak. Lelaki yang aku kenal sangat setia.
Dia bagaikan maghnet yang dapat menarik perhatian bahkan hati para
wanita. Tetapi tak sedikitpun dia mengkhianati cintanya. Dia tetap setia
pada satu cinta, aku. Lelakiku itu seorang yang selalu memegang janji
dan menepati. Baginya janji sama agungnya dengan cinta itu sendiri.
Dua
tahun aku pergi, berharap masih ada cinta yang menanti. Sengaja tak
memberi kabar karena ingin membuat kejutan. Dan hari ini, dengan rindu
yang membuncah aku datang ke rumahmu. Pintu depan tak terkunci
menandakan kamu ada di sini. Ya, aku menemukanmu di kamarmu. Tapi tak
sendiri. Aku melihatnya. Melihatmu dan wanita itu sedang asik bercumbu.
Aku hancur seketika itu. Apa kabarnya cinta yang kau jaga hanya untukku?
Sungguh aku tak mampu lagi percaya yang namanya cinta. Kenapa kamu tega
menyakitiku? Tega menduakan cinta? Dan kenapa harus bermain di
belakangku dengan wanita itu? Kenapa harus wanita itu? Sedangkan kamu
tahu wanita itu adalah ibuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar